Dharma Santika Mandala – Pusat Pengembangan Dharma dan Kedamaian di Bali
Namo Amitabha Buddhaya
Namo Sakyamuni Buddhaya
Namo Avalokitesvara Bodhisattvaya
Om Mani Padme Hum
Salam bahagia bagi kita semua.
Pulau Bali dikenal sebagai pulau yang indah sekaligus menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa, budaya, dan agama dari seluruh dunia. Keberagaman tersebut mencerminkan semangat toleransi serta nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika yang hidup dalam masyarakat Bali.
Sebagai salah satu pusat kegiatan spiritual dan budaya di Indonesia, Bali juga sering menjadi tujuan kunjungan para Sangha dari dalam maupun luar negeri. Namun hingga saat ini masih terbatas tempat yang secara khusus dapat menjadi tempat beristirahat yang sesuai dengan kebutuhan kehidupan disiplin Sangha.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Majelis Mahayana Indonesia DPD Bali menggagas pembangunan Dharma Santika Mandala, sebuah tempat yang dirancang sebagai rumah peristirahatan Sangha, pusat pengembangan Dharma, serta ruang dialog lintas agama.
Apa Itu Dharma Santika Mandala?
Nama Dharma Santika Mandala memiliki makna yang mendalam.
- Dharma berarti ajaran kebenaran yang membawa kebajikan dan kebahagiaan bagi semua makhluk.
- Santika berarti kedamaian, menggambarkan harapan agar tempat ini menjadi ruang yang harmonis dan bebas dari pertentangan.
- Mandala berarti ruang suci atau sacred space, yaitu tempat yang diberkahi untuk kegiatan spiritual, pembelajaran, dan pengembangan kebijaksanaan.
Dharma Santika Mandala dirancang sebagai area suci untuk mempelajari, mengembangkan, dan mempraktikkan ajaran Dharma serta menjadi tempat yang terbuka bagi dialog dan kerja sama lintas agama.
Tujuan Pembangunan Dharma Santika Mandala
Pembangunan Dharma Santika Mandala memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:
1. Rumah Peristirahatan Sangha
Menyediakan tempat tinggal sementara yang tenang dan layak bagi para Sangha yang melakukan perjalanan atau kegiatan Dharma di Bali.
2. Pusat Pengembangan Dharma
Menyediakan ruang untuk pendidikan Dharma, diskusi spiritual, pelatihan, serta pengembangan budaya spiritual seperti musik Dharma.
3. Ruang Dialog Lintas Agama
Menjadi tempat pertemuan berbagai komunitas agama untuk berdialog, berkolaborasi, dan menumbuhkan semangat toleransi serta saling pengertian.
Fasilitas yang Akan Dibangun
Dharma Santika Mandala dirancang dengan berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan spiritual dan komunitas, antara lain:
- Kamar khusus bagi para Sangha
- Hall meditasi dan altar puja bakti
- Ruang kelas untuk pembelajaran Dharma
- Studio musik untuk pengembangan budaya spiritual
- Ruang kegiatan organisasi dan manajemen
- Area parkir dan fasilitas pendukung lainnya
Dengan fasilitas tersebut, Dharma Santika Mandala diharapkan menjadi pusat kegiatan Dharma yang hidup dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Mari Berpartisipasi dalam Pembangunan Dharma Santika Mandala
Untuk mewujudkan pembangunan Dharma Santika Mandala, diperlukan dukungan dari para umat, sahabat Dharma, serta masyarakat luas.
Partisipasi dan dukungan Anda merupakan bentuk penanaman jasa kebajikan yang akan memberikan manfaat besar bagi Sangha, pengembangan Dharma, serta terciptanya ruang kedamaian bagi semua.
Bersama-sama kita dapat mewujudkan Dharma Santika Mandala sebagai:
- Rumah kedamaian bagi Sangha
- Pusat pembelajaran Dharma
- Simbol harmoni dan toleransi antar umat beragama
Semoga melalui niat baik dan kebajikan bersama, Dharma Santika Mandala dapat terwujud menjadi tempat yang membawa manfaat bagi generasi sekarang dan masa depan.
Terima kasih atas perhatian dan dukungan Anda.
Svaha.
Pelantikan Pengurus DPD Majelis Mahayana Indonesia (MAHASI) Provinsi Bali Periode 2024–2029
Pada Sabtu, 6 Januari 2024, Pengurus DPD Majelis Mahayana Indonesia (MAHASI) Provinsi Bali Periode 2024–2029 resmi dilantik di Cetya Siwa Buddha Dharma Mahayana, Renon, Kota Denpasar. Acara pelantikan ini menjadi momen penting bagi perkembangan MAHASI di Bali, dengan pengurus yang dipimpin oleh Romo Effendi Halim.
Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum DPP MAHASI, Romo Suwito, M.Pd.B., yang turut didampingi oleh berbagai tokoh agama dan budaya. Hadir dalam acara tersebut Ketua Bidang Sosial dan Budaya DPP MAHASI, Romo Andi Rojali, serta Ketua DPW Pecinta Tanah Air (Petanesia) Bali, Bima Prasetya Wijadmika, bersama sejumlah perwakilan tokoh penting lainnya, termasuk Mocha Kemal Aljawali, Rumah Nuswantoro, Romo Ainul Karim, Ki Raga Sukma dari Padepokan Gagak Karancang Bali, Ketua DPD FP NKRI Wilayah Bali, Sonny Setiawan, dan Habib Dicky Laksmana dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama.
Selain itu, hadir pula perwakilan dari DPD Ahlul Bait Indonesia Provinsi Bali, Habib Ridho Al Haddar, Ketua Ikatan Keluarga Batak Bali (IKBB), Pontas Simamora, serta berbagai organisasi dan lembaga lainnya yang menunjukkan dukungan penuh terhadap acara tersebut.
Acara pelantikan dilengkapi dengan prosesi doa dan pemercikan tirta yang dipimpin oleh Suhu Neng Rui (Biksu Sakya Nimitta) dari Sangha Mahayana Indonesia. Prosesi tersebut berlangsung khidmat dan penuh makna, mencerminkan nilai-nilai spiritual dalam tradisi Mahayana.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, diselenggarakan juga pagelaran musik Nusantara yang dipersembahkan oleh Rumah Nuswantoro. Pagelaran ini menyuguhkan perpaduan mantra kuno dari berbagai adat budaya dan doa-doa yang mewakili keberagaman agama di Indonesia. Pertunjukan tersebut tidak hanya menambah keindahan acara, tetapi juga menjadi simbol kuat dari semangat toleransi dan persatuan dalam keberagaman.
Pelantikan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat eksistensi MAHASI di Bali dan mendukung kemajuan kebudayaan, sosial, serta hubungan antaragama yang harmonis.
